header photo
Tampilkan postingan dengan label catatan saku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan saku. Tampilkan semua postingan

sedekat dengan kehidupan

aku pernah menghindar,
dan takut

aku pernah jumawa,
bersanding dengan kesombongan

aku pernah bahagia
dan terkadang masih

aku pernah tersenyum
'pabila ada kesempatan, tak pernah kutahan untuk itu

aku pernah menahan tangis,
dan berharap kiamat mempercepat waktu

aku pernah menyerah
kemudian ditarik maju hanya kar'na anugrah

aku pernah diberi kesempatan
dan dihantui arti kata 'sia-sia'

aku pernah berkarya,
dan terus mencoba mencipta

aku ...

lagi-lagi masih hidup,
walau layak mati,
walau layak dijauhi,
walau layak disayangi,
walau layak masuki mimpi kalian,
walau layak digurui
dan patut untuk belajar

kar'na belum juga aku mati
itulah karnanya aku hidup


secercah redup bintang


bintang telah menghilang, bersama kedipannya yang menarik

...meredup?
"mungkin" jawabku,

...terhalang?
"bisa jadi" ketusku

di mana kau, bintangku?

bintang berpindah, bintang lari menghindar
bumi berputar, porosku pun beranjak
bintang lenyap dari letaknya
terhenyak ku di lekat malam

sesaat ku memohon, terselip buah rindu yang sejadi-jadinya

angin hitam berdatangan padaku
mempermainkan helai-helai dari rambut hitam
berbisik dalam bahasa yang tak kumengerti
siasat alam ini meluluhlantakkan semua pengertian

bila cahaya adalah sebuah harapan
masakan tak kutemukan cahaya bintangku di langit lapang sana?
bila rindu tercampur kekalutan
salahkah bila ku menghujat keberpihakan sunyi yang padaku ini?

Mata dalam gelap

Ah mataku, apa yg hendak kau pandangi kala malam begini? Padahal semua insan telah tersembunyi dalam pembaringannya. Tidak juga hatinya, juga jiwa tiap-tiap insan mati seketika dalam lelap. 


Hendakkah perkara yang demikian jadi misteri bagimu untuk disaksikan, ah mataku? Padahal unt yang demikian, tak akan sanggup penglihatan menakar keterlelapan jiwa -pun pabila bisa kau, mataku, melihatnya.

yang nantinya dan yang sekarang

Kemarilah bersamaku, kita akan membelokkan garis tangan kita berdua. Garis tangan yang hampir tak terlihat lagi di masing-masing telapak kita, 'kan kita buat sejelas helai bulu mata kita. Lentik dan hitam.

 Berartinya sehelai bulu mata, menjaga rapuhnya kornea, juga percantik keindahan pandangan mata yang memandang.

 Demikian akan kita buat, garis tangan pada telapak mata kita.

 Jangan berhenti

dan mereka (atau jangan-jangan cuma aku) disebut Pemuda

Sebuah percakapan dengan seorang teman yang baru saja berakhir beberapa menit tadi. Mungkin juga adalah sebuah pemikiran yang lahir dalam sanubari yang tak terlihat, dalam bingkai potret makna yang kuambil dari lensa fokus seorang aku. Aku yang adalah pemuda, juga seorang yang baru. Baru jadi orang -maybe-. 

Bahwa seorang pemuda hadir dalam semangat pembaharuan. Itu aku amini. Atau jangan-jangan memang yang demikian cuma aku? 

Bahwa seorang pemuda lebih menyukai berbicara, dan sebuah jurus yang dinamakan "mendengar" bukanlah jurus yang menjadi andalan. Begitulah jadinya aku yang lebih dikenal dengan mulut yang jarang mengatup, juga aku yang masih muda (semuda-mudanya pemuda). 

Bahwa seorang pemuda dalam kemudaannya, tak berikat pinggang ketat. Lebih memilih satu ukuran celana yang lebih besar satu nomor ukuran pinggangnya. Karena dengan demikian tak terimpit derap langkahnya yang terdesak oleh impitan. Gerak yang demikian sering teridentifikasi sebagai pemberontakan bukan? Setidaknya berontak dari celana yang menyempit. Seperti celanaku yang berkerut -cemberut. 

Bahwa kesabaran adalah jalannya pengalaman, bagi yang tak lagi pemuda. Jadi haruskah pemuda bersabar? Bisa jadi bukan waktu muda kata "sabar" bisa dijabarkan dalam formula aljabar yang tepat bagi pemuda. Atau hanya bagiku, yang di masa tua akan kukatakan pada seorang muda: "Bersabarlah hey kau pemuda...!" 

Bahwa bukan hanya pemuda, juga bukan hanya seorang tua (atau lebih dari itu, bukan jua seorang bayi yang baru saja diutus lahir ke dunia dan bermula dari sebuah rumah sakit seadanya) yang tak tahu kapan akan datangnya hari penghakiman. Di mana setiap ornamen kehidupan yang pernah hidup akan diminta pertanggung-jawaban akan apa yang pernah di tingkahlakukannya. Maka berfaedahlah hidup bagi seorang yang tua untuk bergerak lebih lambat karena pengaruh umur yang memberatkan langkah kaki juga beratnya pertimbangan, atau juga berfaedahnya hidup seorang bayi yang belum saja dapat berjalan karena hidup yang baru dimulainya hanyalah hidup yang bergantung... kepada orang yang mau tak mau harus bayi ini menggantungkan pengharapan hidupnya. Jadi Pemuda tak berat kaki, tak berat pertimbangan, juga tak bergantung, maka demikian pemuda adalah beratnya pertanggungan jawab di masa penghakiman nanti. Yang pasti datang kelak pada waktunya, waktu terakhir, waktu penghakiman. Jadi dengan langkah kaki ringanku, ringan pemikiranku, dan tak ingin bergantung... aku sempat terpikirkan untuk meminta bantuan Lembaga Bantuan Hukum untuk membelaku jikalau masa penghakiman itu datang. Semoga ada jenis Lembaga Bantuan Hukum yang demikian. 

Dan ternyata di akhir semuanya, ternyata aku bingung tentang kata "pemuda" itu sendiri. Tapi aku mengadah ke bulan yang ada di atas langit. Dan ku rasa bulan di malam ini seperti bentuk kepalaku dan agak mirip mukaku. Aku lah pemuda, di atas langit seperti bulan. Pernah bayi, dan semoga nanti sempat tua. Semoga.

28 Oktober 2011
 Sebuah catatan saku seorang pemuda, aku.

tentang-tentang

Tentang dia yang mungkin bukan manusia utuh. Tentang dia dan ukurannya. Setengah bukan gambaran penuh tentangnya, mungkin kurang dari itu, tapi bukan sepertiga juga seperempat. Entahlah, mungkin dia bukanlah tentang sesuatu ukuran, juga bukan untuk dinilai. Tentang dia dan nilai.

Tentang dia yang penah jalani masa lalu. Tentang dia yang masa sekarang, juga tentang dia yang nanti di masa menjelang. Tentang dia yang tak menjalani waktu, atau terserak berarak usaha mengejar waktu. Namun bukan tentang dia yang berada terikat dalam waktu. Tentang dia yang sebenarnya membuat waktu berjalan. Adakah karena ketidakhadiran dia waktu akan terekam dalam hidupnya? Maka tentang dia adalah tentang keterbebasan dari usaha si penjajah yang kita kenal dengan sebutan waktu. Tentang waktu yang gagal mendiktator hidup dari dia.

Tentang dia yang berperinsip. Tentang ketatnya aturan hidup yang dia jalankan sepenuh hati. Namun juga tentang dia yang tak selamanya membiarkan logikanya mengatur ketatnya arus hidupnya. Tentang fleksibilitas, dan juga tentang kompromi. Membiarkan dirinya sesekali mengingkari dirinya sendiri. Tentang mengalah, tentang perjuangan yang diusahakannya demi sejalan dengan prinsip hidupnya. Namun di saat ujung, tentang bagaimana usaha menegakkan prinsipnya menemui jalan buntu, maka tentang itu dia mengalah. Tentang arti mengalah yang dapat membiaskan arti dari semangat juang, tentang yang demikian dia menyesah. Tentang mengalah, tentang kebesaran hati dia menganggap. Tentang Tuhan, Sang Pengadil Absolut, yang akan mengambil alih yang karenanya (tentang) mengalah akhirnya dia perbuat juga.


tentang-tentang yang demikian... tentang.

realisasi harapan



berhentilah jika memang arah tiada,
tapi jangan selamanya

ragulah jika memang tiada kepastian,
tapi jangan tak berpendirian

jangan menyerah,
walau hasil akhir demikian mengarah 

pelangi terasa indah selepas hujan,
bintangpun berkedip menarik perhatian malam,
alam pun selalu sajikan pandangan demikian
keindahan yang ngajak kita berharap

berharap, dan realisasikan,
berbuat, dan saksikan...
tiada yang sia-sia,

karena malam tidak untuk selamanya,
juga pelangi tak selalu ada,
alam pun semakin mendekati wafatnya
jangan hanya sebatas memiliki harapan

berharap, dan realisasikan,
berbuat, dan saksikan...
tiada yang sia-sia

September 11, 2011

kamus perbedaan dalam berteman

perbedaan?

itu cuma menjadi kekentalan yang mereka nikmati bagaikan kopi hangat yang diteguk secara perlahan hingga bersisa ampas yang tertinggal di cangkir mereka.


---sedang menikmati secangkir kopi hangat---


June 7, 2011

damai

di bawah sebuah taman,
rindang dan sejuk,
tak bising,
juga tak tergesa
tak tertekan,
juga beri ketenangan,

di bawah mendung,
sepi dan tiada riuh,
tak terik,
juga tak membakar
tak menuntut,
juga beri kesyahduan

di bawah senja
kemilau dan memerah,
tak menyilaukan,
juga tak membutakan
tak memaksakan,
juga beri keramahan

dalam damai,
terasa asing segala bahasa manusia
dalam damai,
terasa bahasa alam capai nirwana

May 5, 2011

kerangkeng

yang 'ku lihat
kamu yang sedang bekerja,
giat dan keras luar biasa

jam sembilan malam dari jam tangannya yang kulihat

namun tak demikian yang 'ku rasa
kurasa kamu sedang merindu panjang umurmu
kar'na itu kamu kerja

singkat umurmu teruntuk dunia luar kerja

semoga panjang umurmu
di bumi yang padanya kamu bekerja

dari surga
mereka-mereka yang suci melihat
dan berujar singkat:
"orang yang demikian tak akan masuk sekutu kita"

dari surga
mereka-mereka yang suci dapat merasa
sedemikian padat perasaan mereka, dan kembali berujar
"orang yang demikian tak akan masuk sekutu kita"

April 22, 2011

Kebas Pantat, Belas Kasihan, dan Ketek Setan

(jurnal seorang pengemudi motor berplat B)


Matahari kembali terang di atas segala kemungkinan langit yang terik. Aku terdiam keletihan. Tak habis juga perjalanan yang kutempuh sejak sedari tadi.

Sebuah warung di pinggiran jalan akhirnya kutemukan. Aku berhenti. Lalu memesan sebuah botol beserta teh dingin dalamnya. Mulutku menghirup teh itu. Segar. Juga nyeri seketika itu juga perutku. Baru kusadari, sehabis bangun tadi pagi, tak sempat ku santap makanan pembuka bumi ku. Sarapan.

Sehabis kuhisap cair-cair semua isi teh dingin dalam botol itu, aku bayar, lalu bergegas menghidupkan teman beroda dua. Motor berplat B kepunyaanku. Satu-satunya.

Sempat terpikir untuk membeli motor dalam ukuran yang lebih besar, lebih gagah. Tapi kuurungkan, lantaran tak sanggup ku dibuat pusing nantinya. Pusing karena akan bingung motor yang mana yang harus kupakai saat hendak ingin menyusuri jalan raya. Yang tua, yang telah kupunya dari zaman SMA kah? atau motor dengan ukuran yang lebih besar? yang nyatanya masih saja dalam angan tentang motor gagah itu sendiri. Peduli ketek setanlah! Aku bingung untuk hal yang demikian!!!

Catatan pengendara motor berplat B (monolog pengendara lesu)

Perjalanan pulang kerja sangat menyiksaku. Macetnya jalan raya seakan-akan tak pernah berempati akan keletihanku. Sepanjang jalan, tersedia titik kemacetan. Ups... aku ralat dikit:-->  Sepanjang jalan, tersedia titik-titik kemacetan.

"Sial. Titik memang kecil, tapi dampak dari sebuah titik tak sesederhana  titik itu sendiri. Bukankah dampak dari titik itu adalah menjadi akhir dari suatu kalimat? " demikian awal monologku di hari ini di atas sepeda motor ber-plat B.

"Titik kemacetan memang cuma beberapa panjang meter jauhnya. Tapi lihatlah berapa banyak kendaraan berlomba untuk mencari kesempatan untuk lolos dari titik kemacetan. Dan dampak dari titik (kemacetan) menghasilkan garis panjang antrian kendaraan, baik pengemudi yang mau mengantri, juga demikian yang tidak mau tahu tak ingin mengantri dan menyerobot sesukanya selagi ada celah untuk menyalib. Dan, here we go... i still stuck in the midle of traffic"

Sudah konstan jarum speedometerku bertahan angka 10 km di sana selama 30 menit perjalananku setelah keluar dari parkiran motor kantorku. Itu artinya sudah setengah jam (aku prediksikan) aku baru menempuh jarak 5 km jauhnya dari kantor. Sedang untuk mencapai rumah perlu sekitar 25 km lagi.

"Ah janganlah dulu kepintaran berhitungku muncul di saat yang tidak tepat" 

Bagaimana tidak? Bukankah lebih baik aku tak hapal mati tentang rumus dari kecepatan? Yang bahwasanya v=s/t. Kecepatan adalah pembagian waktu oleh si jarak. Pun demikian: s= v*t. Jarak adalah perkalian kecepatan dengan waktu. Dan jikalau kecepatanku selama 30 menit terakhir cuma 10 km/jam, maka jarak yang kutempuh adalah 5 km saja!!!

"Ah seandainya saja aku sakit parah saat pelajaran Fisika di SMA dulu, tentulah aku punya alasan untuk meliburkan diri. Tentulah aku tak diajarkan tentang rumus kecepatan, tentulah 10 tahun kemudian aku tidak akan bisa menghitung sudah seberapa jauh jarak yang kutempuh saat melewati jalanan macet. Perhitungan yang hanya mengandalkan jarum speedometer motor dan jam di HP Nokia ku. Dan akhirnya, kudapati diriku bertambah lesu dengan mengetahui berapa jauh jarak yang harus kutempuh untuk mencapai rumah." Setelah monolog ini, alam sadarku, tanpa semauku, menghitung  interval taksiran waktu  berapa lama lagi aku akan sampai ke rumah. Gerombolan arwah kelesuan seketika merasukiku.

Ternyata kejeniusan yang tidak pada tempatnya adalah kemalangan bagiku. Kelesuan bagiku.

Lesu.

Titik kemacetan pertama telah terlewati. Dan seperti awal monologku, akhirnya dampak dari titik menghasilkan akhir dari monolog singkatku. Tak ingin aku bermonolog. Tiada guna.


Sial. Titik memang kecil, tapi dampak dari sebuah titik tak sesederhana  titik itu sendiri. Bukankah dampak dari titik itu adalah menjadi akhir dari suatu kalimat? "

March 10, 2011

Hari ini TUHAN tejebak di dompetku

Tanggal Dua puluh Lima, di suatu bulan tertentu, pada tahun tertentu dari hidup si penulis.

"It's a beatuiful day.." aku mencoba mengikuti alunan musik dari mp3-ku. Lagu U2 memang sudah menjadi andalanku saat bepergian dengan mengendarai sepeda motor ber-plat B ku, dan lagu "beautiful day" milik U2 yang paling bisa menemani andrenalinku saat berkendara dengan kecepatan tinggi. Dari balik helm yang kukenakan, tepatnya tersumbat di lubang telingaku ada headphone dari mp3 yang baru saja kubeli sebulan yang lalu dari gajiku.

Hari ini kata 'gaji' jelas merupakan tujuan utamaku melangkahkan diriku ke kantor dengan riangnya. Apa yang membuat kata gaji ini begitu membangkitkan semangat? Ini harinya aku menjadi kaya. Ini harinya gajian...!!!

Walau ada perasaan kecut dari dalam hati yang masih saja tak sanggup kuhilangkan dari bulan lalu. Sebulan lau, aku baru mengerti suatu istilah dalam kamus perekonomianku. Istilah ini adalah "gaji 8,2". Dan Memang benar gajiku benar-benar DELAPAN KOMA DUA. Jam Delapan gaji cair, jam Dua mukaku murung. Jam Delapan pagi dompetku tebal, jam dua sudah entah kemana sebagian besar itu isi dompet.

Hidup teramat mudah untuk tidak disambut dengan muka murung. Tiada uang, tiada senyum. Akulah itu di bulan lalu. ..........

---TIBA-TIBA HP-ku BERbUnyi. Aku harus MengAKHiri tuliSAN ku Ini. Maaf bagi yaNG sempAT Membaca nOTe ini. Aku SUDahkAN duLU Sampai disiNi. Monster sedaNG Datang ke BUmi. Aku harus kembaLi bERtuGAS, MENyelAMAtKan Bumi dARI ANcAMAN mONSTER---

to be continue...

belum saatnya untuk titik.


Ayo kawan, jangan akhiri dengan titik
ini baru saja pertengahan kalimat,
jangan enggan lanjutkan celoteh merdumu

seperti keceriaan anak kecil --teramat kecil--
yang baru saja terjerembab dan henti langkah kaki mainnya
dan lalu tertawa,
seperti sesuatu yang lucu dalam otak lugunya,
rok warna-warni miliknya--sedikit robek-- tercoreng noda tak urungkan niatnya,
dan dia tertawa,
lalu kembali bermain

ayo kawan, jangan sampai kehabisan inisiatif jari-jemarimu
lukiskan tentang perasaan dalam kata,
sedang olah pikirmu mencari kelanjutan dari tanda petik
atas setiap buah pikirmu yang hendak kau rangkum,
dalam kertas kaca komputermu,
dan lanjutkanlah

Ayo kawan, jangan akhiri dengan titik
ini baru saja pertengahan kalimat,
jangan enggan lanjutkan celoteh merdumu

kutunggu kau dari depan ini


Jabat hangat teruntukmu dan skipSWEET-mu,
Sonny Sitorus




February 25, 2011

Berkat TUHAN mari hitunglah

Jika topan k'ras melanda hidupmu
jika putus asa dan letih lesu
berkat Tuhan satu-satu hitunglah
kau niscaya kagum oleh kasihNYA
ref:
Berkat TUHAN mari hitunglah,
kau 'kan kagum oleh kasihNYA
Berkat TUHAN, mari Hitunglah,
kau niscaya kagum oleh kasihNYA

Sebuah lagu yang menjadi pengantar keterbatasan daya hitungku. Mengapa? Mengapa terbatas?

Aku masih saja sibuk bertanya dengan jiwaku yang satu-satunya ini. "Hey jiwaku jangan gundah. Gundahmu mengganggu kinerja tubuhku"

"Jikalau aku gundah, biarlah demikian. Karena aku jiwa, dan aku menilai segala kejadian yang kau alami. Dan inilah penilaianku terhadap kejadian yang menimpa kau saat ini, atau sebut saja 'menimpa kita berdua'. Dan inilah aku, jiwa, dan begitulah jadinya kau karena aku" sanggah jiwaku padaku.

Benar juga yang dikatakan jiwaku. Bukankah jiwa dapat gundah, jiwa juga dapat bahagia, jiwa juga dapat gentar? Kesemuanya itu, bahkan lebih lagi, terjadi seringkali karena kejadian yang lalu-lalang terjadi dalam keseharianku.

Sementara jam dinding terus saja sibuk sendiri. Memutar jarum-jarum yang dimilikinya. Jarum detik, jarum menit, dan jarum jam. Sementara kalender yang menempel di dinding tetap saja beraneka angka, berwarna hitam, dan juga merah.

Sungguh aku sedang kurang kerjaan, bisa jadi karena kurang perhatian, ataupun bisa jadi karena kurang memperhatikan. Harus kuakui aku kurang memperhatikan jarum detik, jarum menit, jarum jam pada jam dinding yang kupunya. Mengapa jarum-jarum itu berputar? Mengapa jarum-jarum itu menunjuk kepada setiap angka yang melekat pada jam dinding? Dan juga sama halnya dengan kalender, walau sering melihat, tapi aku kurang memberikan waktu baginya, walau sejenak. Mengapa begitu banyak angka, mengapa ada warna merah, mengapa ada warna hitam di tiap hari yang berbeda?

Berapa banyak kejadian yang telah kualami semasa hidupku, dan aku masih hidup. Dan apa lagi yang akan kualami nanti sepanjang aku masih hidup, entah kapan aku berhenti hidup. Tiap kejadian selalu ada penanda waktu di setiap terjadinya kejadian itu. Ada kejadian haru-biru, senang-menguning, menggembirakan-merah muda, kegagalan-memerah.
Dan tiap satuan waktu tersebut, adakah aku ingat letaknya kejadian tersebut satu-persatu dalam tatanan penanda waktu? Dimana jarum detik, menit, jam saat satu kejadian itu terjadi? adakah aku mengingatnya? atau adakah aku perlu mengingatnya?
Pada angka berapa di kalender, satu kejadian itu berlaku dalam hidupku? pada angka merahkah? atau pada angka hitamkah?

Dan otakku mencoba mengambil alih kesadaranku. Otakku membawaku kepada flash back  perkataan seorang teman di waktu yang telah lama dulu.
---------------------
"Dan taukah kau Son? Tuhan hanya membutuhkan seperseratus detik --bahkan lebih-- untuk membuat suatu mukjizat terjadi dalam hidup kita"  Sari, teman guru sekolah minggu, berkata kepadaku dalam tayangan flash back tersebut.
---------------------
Seketika, aku kembali ke kesadaranku seutuhnya. Menjadi diriku, menjadi tubuhku, menjadi otakku, menjadi jiwaku.
"Dan jikalau TUHAN hanya membutuhkan waktu seperseratus detik --bahkan lebih-- untuk membuat suatu mukjizat terjadi dalam hidupku, berarti seberapa banyak seharusnya mukjizat itu terjadi dalam hidupku?''
"Berapa banyak mukjizat menghiasi tiap putaran jarum-jarum jam dindingku?"
"Berapa banyak mukjizat mampu TUHAN sediakan dalam hidupku di setiap angka --baik angka merah maupun hitam-- dalam kalender dindingku?"
Dan terlebih dari kesemua itu "Bukankah satuan putaran jarum-jarum jam dindingku ataupun angka merah-hitam di kalender dindingku menandakan betapa terbatasnya daya hitungku untuk mengkalkulasi semua kesempatan mukjizat dapat terjadi oleh TUHANku?"
"Adakah aku memberikan kesempatan TUHAN untuk menyajikan mukjizat itu terjadi dalam hidupku? atau jangan-jangan kekurangpercayaanku yang membutakan mataku untuk melihat begitu banyak mukjizat telah terjadi dalam hidupku selama ini?"
"Oh jam dinding, oh kalender dinding... . Keberadaan kalian sungguh membesarkan nama TUHAN-ku, dan betapa terbatasnya 'analisis keberartian berkat dibalik setiap kejadian' yang kumiliki"

Kini aku berkomunikasi lagi dengan jiwaku. "Jiwaku..., jikalau engkau sanggup, hitunglah setiap berkat sebanyak perputaran jarum-jarum jam dinding yang masih terus saja berputar. Jikalau kau sanggup, duhai jiwaku, nantikan kapan kalender mulai tak diproduksi lagi dimuka bumi. Kar'na pada saat produksi kalender lenyap dari muka bumi, itulah saat berkat TUHAN menemukan ketidakterbatasan waktu dan ruang. Karena siapa pula yang bisa menghentikan berkat TUHAN tercurah? Tidak juga waktu, lebih dari itu, bahkan melewati masa berlakunya produksi kalender dimuka bumi ini... berkat TUHAN selalu ada"

"Dan taukah kau Son? Tuhan hanya membutuhkan seperseratus detik --bahkan lebih-- untuk membuat suatu mukjizat terjadi dalam hidup kita"  Sari, temanku, berkata kepadaku dalam tayangan flash back tersebut



February 14, 2011

Bisa jadi aku adalah penemu teori resonansi

Resonansi merupakan proses bergetarnya suatu benda dikarenakan ada benda lain yang bergetar, hal ini terjadi dikarenakan suatu benda bergetar pada frekwensi yang sama dengan frekwensi benda yang terpengaruhi

Jikalau sedang bosan saat sedang mengendarai motor berplat B ku, aku mencoba mencari kesibukan sendiri. Sendirian juga dalam menikmatinya. Tapi tak seorang diri pula aku yang menanggung dampaknya. Salah satunya adalah dengan mempraktekkan teori resonansi yang pernah kudapat hasil usaha dari duduk terbengong-bengong di dalam kelas memahami pelajaran fisika jaman SMA dulu.

Teorinya seperti demikian. Jikalau aku sedang berjalan sejajar, dalam kecepatan yang kurang lebih sama dengan pengendara wanita, teori resonansi ini akan sangat mudah dipraktekkan. Umumnya aku akan melihat kondisi si pengendara wanita itu.

Bagi seorang yang telah lama mengendarai sepeda motor tentu akan tahu membedakan seseorang yang telah lihai berkendara dengan sesorang yang baru saja bisa mengendarai sepeda motor. Umumnya orang yang baru saja bisa mengendarai sepeda motor, apalagi jikalau pengendara itu wanita, dia akan duduk dengan posisi tegak, setegak yang mungkin ditegakkan wanita. Fokus matanya lurus kaku ke depan, jarang melihat kaca spion. Dan saat memegang stang motor biasanya dia akan agak goyang-goyang, tidak stabil.

Jikalau aku cukup beruntung mendapatkan seorang pengendara motor wanita yang seperti demikian maka aku akan mencoba mendekatkan posisi kendaraanku sejajar dengan si pengendara wanita ini dengan jarak yang terjaga agar tidak menyerempet itu kendaraan. Dan.....

Aku goyang-goyangkan kemudi stang motorku, seperti seorang pengendara yang sedang oleng. Seakan-akan aku sedang ditimpa angin puting beliung dan mencoba menjaga keseimbangan di tengah terpaan angin tersebut.

Alhasil....

Teori resonansi pun akan berlaku. Aku yang pura-pura oleng akan disusul oleh olengnya si pengendara wanita tersebut. Goyang kiri kanang, seakan-akan apa yang sedang kualami terjadi juga pada si pengendara wanita itu. Dan si pengendara wanita ini pun akan panik, jikalau dia tak kuasa lagi menahan gempuran resonansi oleng motornya itu, maka dia akan melambatkan laju motornya, dan coba berhenti.

Aku tetap melaju, dan berpuas diri merasa sebagai seorang penemu teori resonnansi.... pada jalan raya.

Maafkan daku, duhai para korbanku yang terdahulu dan yang akan datang.

Resonansi merupakan proses bergetarnya stang motor orang lain dikarenakan ada stang motorku yang bergetar, hal ini terjadi dikarenakan stang motorku bergetar pada frekwensi yang sama dengan frekwensi stang motor orang lain yang terpengaruhi

Serpong, 25 November 2010
Catatan seorang pengendara berplat B yang cari kesenangan sendiri di jalan raya

Kesal Itu Memperpanjang Umur

Seperti yang sudah-sudah, rasa kantuk selalu menemani perjalananku saat mengendarai motor ber-plat B ku. Tak terbilang sudah pinggiran jalan yang telah kujadikan tempat tidur saat benar-benar aku tak kuasa lagi menahan laju kantukku yang sedemikian hebatnya. Ketimbang harus berurusan dengan para suster cantik di rumah sakit lantaran mengalami kecelakaan lalu lintas akibat bermimpi di atas motor yang sedang melaju; atau berurusan dengan kumis para polisi bertampang sangar berbadan dua - seperti ibu hamil -  karena kantuk yang kujadikan alasan saat menabrak, jadi kuputuskan lebih baik beristirahat sejenak di pinggiran jalan. Walau hanya tidur di mushola yang ada di SPBU terdekat, itu sudah cukup untuk membuaku melayang ke dalam dimensi mimpi. Atau kalau tidak ada juga SPBU terdekat, ya aku tak ambil pusing, aku tidur saja di atas motor yang ku parkirkan sembarang di pinggir trotoar.

Tapi hari ini berbeda, aku sungguh berusaha tetap mengemudi motor walau kantuk benar-benar sudah menyerang ambang kesadaranku sampai di garis merah. Dan aku cumalah manusia biasa -seperti sebuah lirik lagu- yang jikalau mengantuk dan ditambah angin sepoi-sepoi, mata ini seketika berat,... berat,... dan kelopak mataku menutup sempurna bola mataku. 

%^&#*$%^&$^*^$*^&^#"!!!!

Ban belakang motorku kempes tiba-tiba. Dengan sigap aku rem, dan menghentikan laju motor. Turun dari jok motorku, mengamati ban belakang, dan dapat kupastikan kejadian ini bukan hanya tentang ban yang kempes atau ban bocor yang tertusuk paku. Ini kejadian yang dinamakan: Ban Dalam motorku pecah. 

Aku kesal bukan main, dan memang aku sedang tidak dalam keinginan untuk bermain. Aku kesal..., kesal,.... keeeesal.....

Tapi aku bingung, kepada siapa kekesalanku ini harus kulampiaskan? Toh ini adalah kejadian alamiah, atau bagiku  sendiri ini adalah peristiwa goib. Tidak ada pelaku kejahatan yang bisa ku laporkan ke polisi karena ku tuduh telah memecahkan Ban Dalam motorku. Aku kesal, dan yang lebih kesal lagi, aku kesal karena tidak tahu kepada siapa kekesalan ini kulampiaskan. 

Aku dorong motor, dan masuk ke bengkel terdekat. Beli Ban Dalam baru, seharga Rp 40.000 sudah termasuk ongkos pasang.

Dan melaju kembali menyusuri jalan raya. Tapi rasa kesal masih saja menguasai ubun-ubun, yang mengakibatkan tak ada lagi rasa kantuk yang tersisa. Kesal,... kesal,... dan bahkan aku lupa bahwasanya sebelumnya aku sedang diliputi rasa kantuk. Dan, dalam kekesalanku, aku tiba di rumah, dan selesailah perjalanan bersama motor ber-plar B ku.

Sebelum akhirnya tertidur di kamar sendiri, satu hal yang kusadari: "Rasa kesal itu dapat memperpanjang umur"

Karena kalau saja aku tidak kesal, tentulah aku sudah tertidur pulas di atas motor yang sedang melaju,... dan bisa jadi aku akan mendapat kecelakaan, dan matilah aku.

Untunglah aku kesal.

Serpong, 20 November 2010
Catatan seorang pengendara berplat B yang ngantuk

Terima Kasih Sudah Mendahuluiku

Mata ini sudah setengah watt, ngantuk, hampir padam nyala bola mataku. Tanganku masih tetap menggenggam kemudi motor, yang baru saja kuganti oli-nya tiga hari silam. Laju motorku pun stabil tiada percepatan kutambahkan. Dalam keadaan antara sadar tak sadar, alam dunia bawah sadarku menarikku begitu kuat ke posisi tertidur.

Rasaku hanya beberapa detik alam sadarku menarikku kembali untuk terbangun saat kurasa motorku oleng, kehilangan keseimbangan, dan klakson mobil begitu beringas dari sebelah kanan belakang pertanda coba mendahuluiku.

Baiknya aku berterimakasih kepada klakson beringas tersebut, karena suara yang dihasilkannya sangat berguna membangunkanku. Karena jikalau tidak demikian, tentulah saat kuterbangun bisa jadi aku sudah terbangun di dunia orang mati.

Dan rasa kantuk dalam perjalanan mengajarkanku untuk mengucapkan terima kasih, bahkan untuk suara klakson  beringas yang coba mendahului aku dan motorku.

Kali Deres, 19 November 2010
Catatan seorang pengendara berplat B yang ngantuk

Kakak berbadan kecil bernyali ginggantisme


Aduh kakak, senangnya ku jumpa denganmu dalam baju merahmu. Bukan merah pertanda "stop" pada lampu lalu lintas, tapi merah pertanda "berani" pada bendera negara kita.

Samar-samar sejak lama kudengar kabar pengasinganmu di sekitar gunung merapi Yogyakarta, tapi saat kujumpa malam tadi, kau bercerita singkapkan samar-samar kabar dirimu.

Dalam pengasingan, kehadiranmu kembali ke kota plat D, sepintas kupikir kau menghindari maut. Menjauh dari gunung meletus, sayangkan nyawamu sendiri. Nyatanya, kau tidak kembali ke kota plat D melainkan hanya "singgah sejenak". Kau singgah hanya kumpulkan bekal untuk menantang mautmu, atau lebih jelasnya, menantang maut kaum mu di kaki gunung merapi.

Duhai kakak berbadan kecil bernyali ginggantisme, bolehkah aku menahanmu, menenangkanmu di kota plat D ini? Sementara ketenanganmu berada di kaki gunung meletus itu.

Maka jikalau bekal mu sudah tersedia, dan kau bersiap langkah pergi menuju ketenanganmu di sana, jumpai kaum mu di kaki gunung merapi, dapatkah ku menahanmu di kota plat D ini?

Tentulah aku seorang bodoh yang berpikir dapat kerdilkan nyali ginggantisme mu.

Tiada ada pikiranku menjadikan mu sebagai kebodohan, yg disangkakan banyak orang tentang seseorang yg justru menghadapi gunung meletus dan bukan malah lari menghindar.

Dan kau, kakak berbadan kecil bernyali ginggantisme, pergilah temui ketenanganmu dan tolonglah kaum mu di kaki gunung merapi.

Hanya saja, jagalah tetap nyawamu dan kesehatanmu. Jadilah berkat.


Salam melepas rindu unt kak epoy

Kutunggu jumpa kita di lain kesempatan. Mungkin juga jumpa kita nanti seperti malam tadi, dalam persekutuan mahasiswa.

-pengendara motor berplat B-

 November 8, 2010

Oktober mencatat kisah bangsaku


Belum juga para tentara semut penuhi lumbungnya dengan bekal makanan, penghujan tiba mengusir matahari. Saat pohon tua hendak teduhkan musafir yang singgah dibawahnya, angin puting-beliung bersenjata gergaji mesin tumbangkan peradabannya. Yang setiap awal musim menanam, petani sibukkan diri tancap benih di petak sawahnya, anak buah menteri pertanian bawa tanah urugan dalam baris dumb truck pembawa tanah merah mendekati sawah. Baru saja gunung berapi masuk angin lalu muntah, anak si pengungsi lupa bawa keceriaannya yang tertinggal di laci mainannya. Ketika ramai pasar malam menggeliat, samar-samar api infrastruktur tata kota bersiap menyala disusul buldozer pembangunan apartement. Derap-derap langkah pemimpin demokrasi, tetap saja kaum marginal disunati.

Selamat tinggal oktober biru, tibalah nopember nelangsa. Desember entah dapat bertahan.

Garuda hampir punah


November 6, 2010
Search Engine Optimization