header photo
Tampilkan postingan dengan label Puisi tentang TUHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi tentang TUHAN. Tampilkan semua postingan

sedekat dengan kehidupan

aku pernah menghindar,
dan takut

aku pernah jumawa,
bersanding dengan kesombongan

aku pernah bahagia
dan terkadang masih

aku pernah tersenyum
'pabila ada kesempatan, tak pernah kutahan untuk itu

aku pernah menahan tangis,
dan berharap kiamat mempercepat waktu

aku pernah menyerah
kemudian ditarik maju hanya kar'na anugrah

aku pernah diberi kesempatan
dan dihantui arti kata 'sia-sia'

aku pernah berkarya,
dan terus mencoba mencipta

aku ...

lagi-lagi masih hidup,
walau layak mati,
walau layak dijauhi,
walau layak disayangi,
walau layak masuki mimpi kalian,
walau layak digurui
dan patut untuk belajar

kar'na belum juga aku mati
itulah karnanya aku hidup


Allahku...Allahku





Allahku...Allahku...
jika mulut menari, tarian nan anggun menguraikan tentang-Mu


Allahku...Allahku...
baiklah tangan mengecap, merasa betapa besar karya dalam penantian waktu Kau izinkan


Allahku...Allahku...
hidup begitu tidak bernyawa, saat lepas jiwaku menghirau denting peringatanMu


Allahku...Allahku...
tidak lebih dari yang berkekurangan, kelebihan waktu percuma begitu saja tanpa tentang-tentang-Mu


Allahku...Allahku...
padamkan segala redup keluh-keluh, agar membara kembali semangat asali mengenal-Mu


Allahku...Allahku...
perhitungkanlah kembali diriku, teringat besarnya tak berkebatasan kasih-Mu


Allahku...Allahku...





Tentang Natal dan kerumitannya


Tumitku sungguh lemah, tak kuasa lagi menapak tanah yang mana sebelumnya talah terjejak jejak tanah dari langkah kakiku sendiri. Seperti hal yang sudah-sudah terulang lagi, bagai lingkaran yang kembali menepukan poros awal dimulainya garis melengkung tak berujung itu. Sungguhkah perlu kesemuanya ini dilakukan? Maksudku adalah Natal dengan segala kerumitannya. Kerumitan yang berpola dan telah ada sebelumnya. Tidakkah ada sebuah kelegaan yang singgah dalam cerita Desember ini? Yang bukan seperti cerita yang berulang-ulang dari yang telah berkesudahan sebelumnya. Yang telah terjalani.


Natal sungguh membuatku seperti...
seperti pohon natal yang terpajang.
Kaku dan hanya berkedip-kedip lampu kecil yang ada padanya. Keindahan yang sesungguhnya tak indah, karena ternyata bukan pohon natal itu sendiri yang beri keindahan bagi dirinya sendiri. Tapi ornamen-ornamen yang melekat padanyalah yang memberi keindahan. Seperti lampu-lampu yang menempel padanya jadi pusatnya.

Sesungguhnya, baik bila aku menjadi kandang domba. Hina sehina-hinanya, bau-sebau-baunya, jorok-sejorok-joroknya.

Dengan harapan, Sang Bayi Yesus sudi lahir dalam kandang yang seperti kuharapkan. Harap-seharap-harapnya.

Natal senatal-natalnya.

Celoteh jemput pagi

Dari tempat tertinggi,
segala sesuatu yang dapat mengalir berarak turun mendekat

Dari tempat yang lebih rendah,
segala sesuatu yang dapat mendaki berusaha beranjak memanjat

Demikian mereka yang nyaman di tempat tertinggi zona hidupnya,
tak dapat mengelak untuk memberi tangan pada yang di bawahnya.

Sedang mereka yang gundah dalam peraduan terendahnya,
beruSaha rubah asa menggapai pengharapan yang ada dalam diri

Di mana dan seperti apa keberadaanmu,
jadilah berkat seperti yang telah dirancang-Nya

Lagi pula, siapa yang dapat menghindari-Nya?

bagai kerbau dan TUHAN

jikalau Engkau TUHAN, tentulah aku kerbau
kerbau yang berbadan tambun, berbeban berat badan sendiri
yang terlalu berat hingga sulit bergerak,
dalam tiap gerak, tanah yang dipijak terdesak membekas lubang,
tentulah aku kerbau yang malas bergerak

jikalau aku kerbau, beginilah TUHAN di mata kerbau
TUHAN yang meringkus kerbau, kerbau meronta
hidung kerbau dilumpuhkan, walau menjerit walau berontak
mencucukkan hidung kerbau, lalu hidung kerbau diikat erat simpul mati kekal
TUHAN yang mengendalikan hidung kerbau, dan dipaksaNYA tarik... ditarik
tiap gerak walau susah, dipaksa gerak maju ditarik... ditarik.. maju
dari hidung kerbau yang dicucukkan, ditarikNya digerakkannya langkah kerbau
tentulah DIA TUHAN yang menggerakkan kerbau



tentulah DIA TUHAN, tentulah bagai kerbau aku

TERPUJILAH TUHAN

terpujilah TUHAN,
dalam kehangatan mentari pagi
saat hamba suciMu masih lelap tidur, keletihan
juga pendosa yang masih tertawa dalam tidurnya

terpujilah Tuhan
dalam kemelaratan hamba yang setia,
saat kecurangan berikan kemakmuran,
hingga si kaya mati dalam keagungan pemakaman

Jadi demikianlah TUHAN
membiarkan hambaNya bertekun, setia sampai akhir
merelakan si jahat tertikam karena kejahatannya, pada waktuNya

tak perlulah ragu akan TUHAN
duhai jiwaku yang berkelu
dan lidahku yang terus saja ucapkan kesah

Kepada TUHAN

kepada TUHAN yang terus saja melihatku,
namun tak demikian aku kepadaNYA,


"tetaplah melihatku, walau pilu,
namun tidak demikian aku kepada-MU"

kepada TUHAN yang tersembunyi arti di setiap yang terjadi padaku,
namun tidak demikian aku kepadaNYa,


"tetaplah KAU singkapi arti, luruskan interpretasi,
namun tak demikian aku padaMU memahami"

kepada TUHAN yang setia mendengarku,
namun tidak demikian aku pada-NYA,


"tetaplah sendengkan telinga-MU, dengar aku,
namun tak demikian pendengaranku kepada-MU."

TUHAN...
KAU ada,
tetap ada,
selalu ada,
namun tidak demikian aku ada pada-MU



Nazar kala haru

Begitu banyak nazar terucap sudah teruntuk Tuhan,
saat air mata haru menguak dari balik mata,
dan semakin banyak juga nanti, di kemudian hari,
mungkin kar'na mudah menjelma haru,

hingga kosakata tidak lagi cukup untuk semua nazar,
yang nyatanya, nazar tak menjadi nyata
apa lagi yang sanggup diperbuat?

padahal masih saja ada haru jelang ujung waktu

Selamat hari Minggu makhluk berkaki

Itulah mengapa uang tak berkaki, tak berlari.
Agar kau tak mengejar uang yang tak berlari.

Sela

Supaya kau tahu,keluarga,sanak,kerabat dan temanmu ternyata berkaki.
Karenanya mereka bisa pergi meninggalkanmu.

Sela

Itu pintu rumah ibadah kenapa ada?
Agar dengan kedua kakimu kau langkah melaluinya.

Selamat hari minggu duhai makhluk berkaki.

adalah Sabat bagi Tuhan Allahmu

19 September 2010

Bookmark and Share

B E R T E K U N

Teruntuk diriku sebagai seorang gelandang(an), Lina br. Pardede seorang Putri Malam, dan juga seekor rajawali bersayap patah yang kusebut dengan Mimi br. Marbun.

---=*=---

Saat ada sekat antara harapan dan kenyataan, dan sekat itu terasa smakin melebar

Saat keadaan menjadikan semua yang ada menjadi tak ada

Saat pengertian semakin menghilangkan arti

Saat justru diri sendiri menjadi eksistensi yang disesali.

Maka jangan bertindak terlalu cepat,

Maka jangan menyimpulkan,

Maka jangan mengambil jalan pintas,

Hanya...

Mungkin ini saat untuk bertahan.
Bertahan lebih lama lagi.
Sampai Allah menuntun dan mengajar dengan sempurna.

Jangan sampai pudar warna surya dan kehangatannya.



Jabat hangat,

seorang gelandang(an)

Sinergi dalam jaring jiwa

siapapun pasti punya lelah
usahakanlah agar tidak bercuma berlelah

beberapa yang punya kerinduan
usahakanlah rindu bergelora tetap

segelintir yang bertahan
usahakanlah warnamu tidak pudar

Tuhan dan aku

Tuhan tambahkan umurku
agar semakin lengkap sudah
pundi-pundi dosa yang semakin membengkak

Tuhan tambahkan kemurahanMu
dalam jamuan makan dan minum
agar terdapat penyesalan dalam nurani

Yang tidak bisa ku mengerti (Yohanes 3: 1-21)


"Karena begitu besarnya kasih ALLAH akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-NYA tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16)

menyiksa waktu

pukuli jarum panjang jam satu kali
dua kali tanggalan hari terus kau pukuli
lanjutkan,... pukuli bulan yang berganti
bahkan pergantian tahun... pukul jangan berhenti,
sampai waktu tak mampu bernapas lagi...

di akhir nanti, waktu 'kan berhenti
tapi waktu tak mungkin kembali
karena hidup tentang 'saat ini'
dan masa depan mengapai mimpi

Persekutuan Mahasiswa III (Kelompok yang kecil)

Lihat...! jari kecil ku hanya 5 di sebelah kanan
di sebelah kiri pun tak lebih banyak, cuma ada 5
dari atas gunung aku menyadari
jemari ini terlalu kecil menggenggam dunia

Ah, bagaimana mungkin kita berbicara mengenai dunia?
sementara polemik diantara kita terus berlanjut
saat kita merancang sebuah misi
yang kita sebut "menjaring manusia"

pahala

Tuhan inikah bumi?

Tuhan, sekarang ku berjanji
semoga esok tak ku ingkari
andai nanti aku ingkari...
anggap saja janji ku tadi hanya ilusi

=-Lapar sesungguhnya-=



bukan itu...!
waktu perut kosong tak berisi
tapi ini...!
saat bagaimana kita memakan

Syukur TUHAN versi II

Syukur TUHAN kala hari berganti
setelah gelap, bersinar redup pagi memulai
pagi berlalu, maka bersiap siang
hangat terik siang padam, kini berteman malam
malam akan berganti, kembali lagi pagi
Syukur TUHAN waktu tak lelah berjalan

bukan tergantung aku lagi

daun itu melekat dibatangnya
aku ingin melekat,
dimana aku akan melekat?
itulah pertayaanku kini

air hujan ini menghujam deras menimpa kepalaku
emisi emosiku kini meluap
meluap dan tercipta dalam gerak tubuh
inilah keadaanku kini

Selamat natal

Lihat,,,!
bintang itu disana,
di sebuah kota kecil betlehem,
tepat di atas kandang domba.

Lihat,,,!
gemerlap natal di sana,
di hati setiap manusia yang percaya,
tepat di tiap hati orang yang berharap padanya padaNYA
Search Engine Optimization