header photo
Tampilkan postingan dengan label Puisi SosiaL BudaYa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi SosiaL BudaYa. Tampilkan semua postingan

anak jalan pesisir jalan

hendak ke manakah kamu, duhai tangis anak yang keluar dari rahim sang ibu pesisir jalan?
karna sang ibu adalah sisa-sisa jalanan, hampir-hampir serupa bentuk jalanan
sang ibu kasar kulitnya, dengan pori-pori sebesar jalan bolong serupa bentuk jalanan

jikalau nanti anak dapat langkahkan kaki dan sanggup berlari, apa yang hendak kamu kejar nak?
karna pesisir jalan, pelesir bermobil gagah mengebulkan racun asap keserakahan melaju cepat
tegap pun kakimu berlari, tak dapat sejajar lajumu mengimbangi yang demikian

mungilnya lidah si anak mencoba belajar berbicara, hendak mengucap kata apa anak ini kelak?
"kesejajaran dan kepedulian" begitu nyaring kau dengar, tapi tak berwujud
"kasih ibu sepanjang jalan" adalah benar adanya bagi anak dan sang ibu pesisir jalan

terpal cukup untuk tenangkan hujan, apa dapat tenang isi perut si anak?
karna sekali kau berteriak lapar, maka tersingkaplah perut yang sejak lahir semakin bengkak tak berisi
hendakkah disamakan keadaan perut yang begini dengan larangan menyantuni anak jalanan?

semoga Tuhan masih ada dihati kita semua,
semoga si anak itu adalah Tuhan, yang nyata terlihat di pesisir jalan
dan disembah dengan tak berkekurangan sesajen yang mewangi haru,
bukan hanya diprihatinkan hanya dengan kata dan lafal doa
  August 14, 2011

may day

dasar kamu manusia
sudah berkeringat punya kerja, tapi perlu bersuara
yang dikira punya perkara
tentang  hidup kurang dari seadanya,
tentang keadilan sosial semata,
dasar kamu yang bersuara
menggema sayup nelangsa
tentang diri kamu yang manusia

dasar binatang
penuai keringat pekerja, yang adalah para manusia
selalu saja angap tiada perkara
melulu tentang kesejahteraan naluri memangsa saja
melulu tentang tekanan malam berfoya,
dasar kamu naluri pemangsa
mengaum sekali, hormat kamu sebanyak riba
tentang diri kamu yang binatang



May 2, 2011

sayang untuk bapak presiden

sayangku untuk bapak
ketika aku ada berpesta,
aku dan kumpulan kecil si kecil yang tercicil

ada bapak di sana
karna ada pesta
karna ada kumpulan

seperti lalat yang tak bisa diam
saat ada kumpulan yang berkerumun
seperti lalat, bapak

tapi suara apa, adakah bapak tahu?
yang dipestakan, mengapa berpesta?
suara apa yang dibawa, kenapa tercicil si kecil?

seperti lalat dengan suara yang mendengung pada sayapnya,
tak lagi peka pendengarannya, lantaran suara dengung sayap sendiri
seperti lalat, bapak

hentikan saja pencitraan, kedekatanmu pada rakyat
rubahlah, apa yang bisa dirubah
bapak, demi beberapa tahun ke depan
sebelum generasi dari rekananmu ganti posisi
adi kuasa, tahta keluarga

tolong bapak, jangan jadi sekadar lalat

demokrasi

bermain dengan senja, seketika saat keheningan jadi pilihan yang didambakan.
berkelakar tentang kebebasan nurani, tulang-belulang tersembunyi tak bernisan.

terdiam, dalam keramaian sesaat, desah janji terangkat tak sentuh bumi.
yang punya tak bertuan, tak punya tuan yang punya.
alangkah tawa tak terdengar, sembunyi perut kecilkan ukuran.
hanya tuan yang punya

sesak kantung celana kempisnya pantat,
celaka dia yang berpantat kembang kempis
karna siapa lihat tersembunyi, tersembunyi dia yang hendak dilihat


"KEADILAN"


"PERSAMAAN"


kebebasan tak lagi temukan ujung jalannya,
liar, tak terkendali
B...E..B..A..S...!!!

rindukan serindu-rindunya,
nantikan hingga akhir nanti,
lalu berdoa.

kar'na tidak akan berlogika, andai berkata:
"TUHAN berpihak pada si penindas"


kutuliskan "mengapa?" bagi kami semua

mengapa kau hamburkan,
sesuatu yang bahkan belum juga punyamu?

mangapa mukamu bermesum duka,
sedangkan ekormu mengibas-kibas manja?

mengapa kau berdiri memimpin,
jikalau hanya nama leluhurmu jadi identitasmu?

mengapa kau pegang keris keramat,
hanya untuk datangkan gaib keberuntungan?

menapa melacur kini intelektualitasmu,
kar'na gunjing integritas isapan jempol semata?

mengapa benakmu sendiri menyerang isi otakmu,
nyatanya hanya seiya-sekata demi orang lain meski tak sejalan pemikiranmu?

mengapa tak kulihat lagi deras keringat,
sebelum kini jutawan rupamu bagi seteguk anggur pragmatis merah?

mengapa sama satu sama lain juga sekitarku,
karena gelombang dari si peniru larutkan percaya diri sendirian?



kutuliskan mengapa dari sebuah buku karya Mochtar Lubis
“Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban”

Anakku terlantar

aNakku,...
ayah pergi dahulu,
sepulangnya ku nanti
kulihat tambah umurmu dua tahun

cepat waktu berlalu
selepas tembus pintu
rumahku berlalu

saat kembali
semua terlihat baru
dan kutanyakan pada istri
siapa anak di depan ini?

engkaulah itu, anakku
tambah sudah lima umurmu
saat tibaku kembali pulang

Matinya Jakarta [Ampera 29/9/2010]

jikalau keadilan menari berkelok-kelok di hijaunya meja sidang,
tak pernah lurus, sesederhana kitab hukum
maka marilah kita menari berkelok-kelok di jalanan
bersama peluru nyasar sembarang nyasar
bersama karat cerulit bekas darah entah tahun kapan
bersama kutukan para petinggi abdi negara, tak berfaedah
bersama mencari persembunyian laci baju pak penegak hukum


karena tidak pernah keadilan yang buat kota ini menari

jikalau kota tempat hidup kita tak menjanjikan hidup
tak semurah pajak menggelap dikantung celana terpidana
maka marilah masing-masing berjanji sehidup semati
sendirian mencuri nafas sembunyi-sembunyi
sendirian mencari kesempatan jual harga diri
sendirian melawan kebenaran sejati yang kita tahu sendiri
sendirian siapkan diri untuk kehidupan reinkarnasi


karena tidak pernah ada janji yang buat kota ini hidup kembali

sumber gambar: Tribunnews.com

Bookmark and Share

mantra outsourcing

(baca dengan cepat. Baca tiap bait dalam satu tarikan nafas)


habis pakai, buang
habis pakai, buang
habis pakai, buang

mumpung kenyang
sekalian ditendang
lalu melayang
menimpa ilalang
sayang

yang...disayang...sayang
yang...disayang...yayang
yang...disayang...malang

bukan main itu kepalang
kepalang curang, tak kurang
dasar kau biang,
mati tinggal di ambang


18 September 2010


Bookmark and Share

Wanita pilihan malam

"Pandang mata kosong,
saat celengan cinta bolong"
ujarnya di suatu lorong

dia jalang malam,
negosiasi harga karam,
cipta birahi curam

dalam doa sepekan,
beriring di jalan,
tolong jadikan dia pilihan

Bookmark and Share

garuda (tak) di dadamu

bajumu bergambar garuda,
bajumu pun berwarna merah,
juga garis putih di lingkar lengan,
sayangnya kamu salah buat,
itu baju kamu pakai terbalik,
jadinya garuda di punggungmu,
garuda tak di dadamu,

kata orang tua,
jika pakai baju terbalik
kamu dapat keberuntungan ini hari

yah..., kalau gitu untunglah
garuda tak di dadamu
hei kamu berbaju terbalik


Antologi "Mereka yang ingin Pulang" [NelaYaN]

3

hari di mulai saat bulan bersinar
bentang layar perahu adalah simpul sepatumu
harap sebuah peruntungan dari bisik angin malam
jaringmu bagai simpul benang penyambung usia

jangan panggil mentari terbit
kar'na itulah saat bagimu lekas dari atas kasurmu
dinding rumahmu warna kekelaman
hitam cakrawala atap rumahmu

tetes keringat di bawah kolong langit
masuk angin, keluar peluh
di atas buih laut, batang kayu perahumu berpijak

saat engkau kembali, saat memijak bumi,
saatnya engkau bermimpi

engkau memimpikan ikan hasil tuaian tersusun rapih di pelataran pelelangan ikan
engkau memimpikan daging ayam kota pengganti garam lautan
engkau memimpikan jerat tengkulak tenggelam dalam tikaman keadilan
engkau memimpikan anakmu menjaring ilmu di samudera pendidikan

Selamatkan harimu nelayan
demi nenek moyang kita adalah seorang pelaut

Selamatkan harimu nelayan
demi berdiri tegak dalam di atas kebanggaan palsu negara kepulauan

Selamatkan harimu nelayan
demi pemerintah berceloteh: "demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia"
demikianlah harga mati kesejahteraanmu

saat engkau bermimpi, saat engkau memijak bumi,
saatnya engkau kembali

panggil mentari terbenam
kar'na inilah saat bagimu berlalu ke realitamu
dinding mimpimu 'tak berwarna
bening cakrawala atap mimpimu

simpan keringat di darat
tertidur, hembuskan angin telan peluh
di atas bumi, batang kayu perahumu terdampar

perahu peruntungan menemanimu
bulan bersinar saat hari dimulai

oh... laut, akankah dia pulang?



Antologi "Mereka yang Ingin Pulang"

PROTES [Buku Haram]

adalah sebuah buku
yang dirumuskan kumpulan berbaju putih
tebal sekali,
tak sesekali ada yang berani buka
"Jangan" demikian judul buku itu

adalah sebuah Gulungan Tua
yang asalnya dari Langit
tipis dan hampir robek,
telah jarang orang berani buka
karena gulungan itu ditiban buku "Jangan"

sungguh mengerikan,
buku "Jangan" jemawa*
sungguh mengenaskan,
Gulungan Tua tersembunyi

ah,... Langit percuma
sudah letih Dia kirim itu gulungan tua
tapi cuma kumpulan berbaju putihlah yang baca
sebelum akhirnya buat itu buku "Jangan"
karena merekalah yang berkuasa
tentukan mana tanda baca, bagaimana mengartikan
dan Gulungan Tua pun jadi tua, dilahap usia
karena sesudahnya, cuma untuk ditiban buku "Jangan"

ah,... Langit percuma
karna di bawah langit,
penguasa bumi adalah penghuni tanah
Langit hanya untuk alibi
demikian bumi beratap langit
demikianlah hidup di atas tanah



keterangan (berdasarkan KBBRI):
je·ma·wa kl a 1 angkuh; congkak; 2 suka mencampuri perkara orang lain;
ke·je·ma·wa·an n keangkuhan; kecongkakan



sumber gambar klik di sini

Antologi "Mereka yang ingin Pulang" [TKI]

2

menuju kota Malang
lesu dia, terbelenggu malang

satu dua langkahnya berat, maju
sepucuk surat terselip di hati mengerat, ragu

hilang telah harap, berat terasa dagu
tak dia berani menatap, dia malu
pulang dia dari peraduan
lenyap sudah kebanggaan

tiba di pintu yang ditumbuhi ilalang, hendak dia bilang:
"ibu aku pulang, jumpa rumah di Malang,
senyum ku hilang, oh ibu beranak malang,
tak banyak ku bawa pulang, cuma mimpi yang kepalang
asa ku dilempar ambalang, saat 'deportasi' majikanku bilang
bersama kulit sembunyikan ku punya belulang, air mataku gilang-gemilang
sejenak sebelum pulang, hendak ku terjun ke jurang
tapi ku ingat senandung burung ketilang, bersenandung di waktu yang berselang
tentang menjalani hari dengan riang, bak hari-hari si kecil petualang
sejauh apapun dia melanglang, pun teringat dia untuk pulang
maka itu oh ibu beranak malang, langkah kakiku tunggang-langgang
tak banyak kubawa pulang, cuma mimpi yang kepalang
tentang sebakul gaji bulan nanti yang hilang, saat 'deportasi' majikanku bilang
senyum ku hilang, oh ibu beranak malang
jumpa rumah di Malang, ibu aku pulang"

lesu dia, terbelenggu malang
menuju kota Malang


Sumber gambar klik di sini


Antologi "Mereka yang Ingin Pulang"









Antologi "Mereka yang ingin Pulang" [wanita jalang]

1

wanita jalang purna-adibintang, pulang
lusuh tampang, bawa itu uang
peduli tetangga hidung belang, apa mau dibilang?
tetap pulang, demi anak sayang

"pulang... ya pulang, aku kembali pulang"
wanita jalang melenggang... pulang


---= veSTer CobaiN=---

6 Agustus 2020


Antologi "Mereka yang Ingin Pulang"

sajaK kEmaRau sIaNG

Mentari terik hinggapi kulit
Sang musafir tambah pelik
matanya berdelik,keringatnya pelit
nyalakan pematik,
rokok sebatang tantang langit
morat-marit

ALAm terancam

sang cahaya tersembunyi
di balik awan yang menghitam
lukisan langit di penghujung biru

burung gereja rentangkan sayap, tak mengepak
burung bangau beriring dalam formasi
ruang horizon di atas sawah

pohon pinus penuhi dolok* yang di sana sana
sawah menguning, ada juga yang baru menguning
sketsa desa hadirkan ketenangan

entah kapan ini semua tetap ada?
laju pembangunan sayup-sayup terdengar

porsea, 30 juni 2010


keterangan: Dolok = Bukit

Sajak TERinjak-injak (Dan KAMi siAP TertawA)

dan kami siap tertawa
,entah ini memang tawa atau memang anggapan tentang tawa,
mendengar aspirasi adalah 15 M sekantung uang kata sepakat

dan kami siap tertawa
,entah adakah nama aktifitas lain yang pantas mengantikan tawa,
menjejali kematian subsidi si miskin

Sajak TERinjak-injak (warna-warni jalan raya)

di bawah ketiak langit
tiga buah surat cinta tercecer di jalanan
terinjak-injak, terbawa angin, melayang terhempas

1. Dear pembela tuhan,
anarkis
bertindaklah demikian berdasarkan idealisme mu
tunjukkan nyalimu
gentarkan langkah setiap orang
hujat semua yang menentang
agar terlihat keberanian yang menjadi dasar
telanjangi kami yang pengecut
lantangkanlah suaramu
perdengarkan yang menjadi keyakinanamu
terimalah surgamu
kamulah sang pembela
atas nama pencipta


kamulah laskar
teriring cinta damai dariku,

penganut agama

Sajak TERInjak-injak (di bawah pembangunan singgasana)

di bawah ketiak langit
menutupi suara azan magrib di penghujung kiamat
deru pembangunan dikumandangkan

besi-besi berhamburan
baja-baja tergeletak begitu saja
dekat dengan rumah bising tangis seorang anak

Sajak TERinjak-injak (bendera setengah tiang)

di bawah ketiak langit
seorang anak bertubuh dekil menari
berputar-putar dia langkahkan kaki
mengelilingi api unggun bersemarak
kehangatan sang api memacu tariannya
bersama perutnya yang terlihat membengkak
sang anak menari
bersama perut membengkak
dalam tiap putaran mengelilingi api unggun
lupakan isi perut kosong membengkak
Search Engine Optimization