header photo
Tampilkan postingan dengan label puiSi perSahabaTan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puiSi perSahabaTan. Tampilkan semua postingan

Perpaduan kita dalam malam

Kepekatan malam hadirkan gelapnya hitam yang tutupi segalanya. Tidak hanya cahaya, pun waktu yang berjalan mampu untuk ditutupinya. Demikianlah gambaran malam itu, saat kau mulai berbicara, saat ku mulai mendengar.

Dan dalam apa yang kudengar, menjadikanku menua. Dan dari apa yg kau ceritakan, aku pernah berada di sana sebelum kau tiba di sana -dan kemudian kau cerita padaku tentang itu-.

Tak ingin ku angkuh, namun bagai kepada kekasih, pun aku mulai menasehati. Adanya aku, karna ku pernah alami yang nantinya kau alami. Dan berharap kau lebih teguh menghadapi kesemuanya, tak serapuh dahulu kala ku menghadapi kesemuanya.

Dan saat cerita kita telah usai, saat tak ada lagi yg bercerita ataupun saat tak ada lagi yg mendengar. Langit tersingkap, malam memudar. Pagi sedikit demi sedikit mulai memonopoli waktu. Dan kita tertidur, dalam mimpi yang sama.

September 4, 2011

Bersama

Bila ada yang kuketahui tak kau ketahui. Maka marilah dalam duduk kita bersama, yang satu mendengar, yang lain berbicara. Pun kemudian, yang lain berbicara untuk kali pertama, dan yang satu menjadi yang kali pertama mendengar.


Bila ada yang tak ku ketahui kau ketahui. Maka marilah kita berjalan seperti biasa. Seperti layaknya seorang anak kecil kepada yang kecil lainnya. Antusias cerita terlepas begitu saja tanpa ada ragu yang menutupi, tanpa meragukan apa yang tertutupi. Bagai seorang anak kecil kepada yang kecil lainnya.


Seperti yang sama-sama sudah saling kita ketahui. Maka itu kita masih saja tetap bersama.


Jabat hangat,

yang satu, dan yang kecil lainnya

July 27, 2011

gila kita bersama muka dewa

memusing segala perkara
entah yang indah, atau yang berkesan sepi

nelangsa peristiwa sejenak
suka berhari-hari penuh

adakah yang lebih indah dari kebersamaan?

aku teringat, entah mengapa
sengaja kita sepakat lukis gambar dewa,
dalam mabuk kita berdua, kita lukis sebuah muka
satu muka: setengah muka ku, setengah muka mu

setengah mabuk kau berkata:
"lihat, dewa ini mirip sekali denganmu"

aku terlampau mudah mabuk sepenuhnya, jua berkata:
"tidak, aku tak secakap dalam gambar ini. Kurasa muka dewa ini menitis jadi engkau"

--tertawa bersama--

--saling berpandangan, tunjuk muka satu sama lain--

--kembali tertawa bersama--

kecewa tak bisa hindarkan kenangan,
terangkai dalam bingkai biru,
yang hanya ada di dinding waktu

sedikit jarak, sedikit waktu, memadu jadi satu
menjelma jadi kesendirian
juga begitu rapuh, mudah tersapu angin rindu

--melihat ke arah gambar dewa--

--kembali tertawa bersama--

--mata mengantuk redup--

temanku telah jadi mabuk, sempat berkata:
"janganlah kita berdebat untuk hal sepele;
karna kita tahu dalam mabuk kita berdua,
telah jadi dewa bersama, dalam satu muka,
kau dan aku"

aku ucapkan kata penghabisan sebelum tertidur dalam mabuk:
"sungguh kita tak perlu dewa,
karna kita tahu dalam mabuk kita berdua,
dewa tak lebih dari kita berdua,
dia bukan kau, juga bukan aku,
karna dua muka kita"

--aku tertidur--

--temanku tertidur--

--gambar dewa jadi alas tidur kami--

kebersamaan begitu kokoh,
tak juga kesadaran yang jadi pegangan,
karna dalam bawah alam sadar kita bersama

sedikit waktu, sedikit jarak, memadu jadi satu,
menjelma jadi kebersamaan,
dalam kemabukan rindu terhadapmu

May 10, 2011

teman seperjalanan


lampu motorku meredup
tapi justru kau semakin mendekapku
erat tanganmu melingkupi badanku
saat kubawa kau bepergian tembus malam
hampir saja tak bisa bernafas aku kau buat

tapi saat mesin motor berhenti
justru kau melepas dekapku
tak dapat erat tanganku menahan pergimu
saat kutibakan kau di tempat perhentian
dan nafasku tertahan sekian jenak

teman seperjalanan
lalu teman berjalan
sisakan jalan
dan aku

teman.
...
..
~
.
.
.
~
..
...
aku,


 November 14, 2010

tuan putri

tuan putri, hamba datang
tak sujud di depanmu, justru hamba tegak, tegar tengkuk
maaf tuan putri, hamba tegak di depanmu
agar tuan putri dapat lihat, bagaimana cara berdiri tegak

tuan putri, hamba datang
tak manis dalam berucap, justru sinis, tak satupun manis
maaf tuan putri, hamba sinis dalam kata
agar tuan putri dapat dengar, kejamnya lidah bagi telinga

tuan putri, hamba bersiap undur, jika diminta
karna dalam kesengajaan, kesemuanya kubuat
maaf, bukan hamba lebih hebat dari tuan putri
hamba hanya ingin berguna

jika dipandang tak berguna,
mintalah, maka hamba akan undur

maaf tuan putri

3 Agustus 2010

teman bayangan

Mari kita mengenang
Tentang bayangan
Hitamlah dia
Di tanah saja
Di injak-injak

Jadi demikian aku
Hanya sebuah bayang

sekadar menyapa waktu yang telah lalu

sesungguhnya aku cuma mengingat-ingat
sejujurnya aku bukanlah ahli pengingat
sebut saja ku pelupa sejati

saat menginjak satu tahun,
waktu ku mulai masuk Taman Kanak-kanak,
ketika mulai memasuki pelataran Sekolah Dasar
ketika keluar sebagai seorang lulusan Sekolah Menengah Pertama
juga saat ku mengenalmu di Sekolah Menegah Atas kali pertama
terpisah karena kelulusan kita bersama, walau berbeda jalan nantinya
sebut saja aku pelupa sejati

puLau INi Adalah PersinggAhan Ribuan DEwa DEwi

terdampar sang putri di suatu malam
dalam hening kebisingan isi kepala
tak mengerti arah tujuan
tiada sinaran lampu yang menghias langkah

Berteman kesunyian semata
satu, dua bayang terlewat
kisah usang tikam rasa dalam diri
menjauh, lalu menghampiri keheningan sisi kamar

bukan tentang kita (suka-suka ku)

aku mulai ragu
benarkah bumi ini berputar mengelilingi matahari?
jangan engkau menentangku
karena ini pilihanku untuk meragu!

aku sangat yakin

Sekarat

Dia menegakkan baringannya,
dlm sgala usaha pembaringan tubuh terkulai
istirahatlah sejenak dlm tawa,
dia yg brpengharapan tak mati

dia tahu ada yg menemani
peri malam tetap terjaga walau tertidur
dia berteman nurani
dia memandang realita dgn takabur

bukan lagi ego, bukan lagi rasa

"apa kabarmu?"
itu seharusnya yang terucap

"apa yang sedang kau gumulkan?"
itulah pertanyaanku bagimu

bukan seperti ego yang ada dalam otakku
terbentuk karena kesedihan dalam diri
tak nampak, tapi pasti terlihat
bagi setiap orang yang mengerti, inilah kebodohan

tawa yang kusesali (maafkan aku teman)

jangan menyangka semua mudah
jangan buat ini jadi mudah
karena pasti akan ada yang terluka
karena satu perbuatan, bisa berakhir sengsara

aku tertawa awalnya
karena ini menyenangkan
karena mungkin telah lama aku tak tertawa
karena itu aku menikmati awalnya

setiap kali

setiap kali aku sendiri
ada perasaan untuk ditemani
aku peka akan kebutuhan pertemanan
setiap kali ini terjadi
menjadi arti bagiku
bahwa seorang teman itu berarti

Ketika ku membenci dia

lihat saja gerak langkahnya
kuharap ada kerikil kecil membuat dia tersandung
tidak...tidak....tidak!!!
kuharap ada batu besar jatuh dari langit tepat di ubun-ubun kepalanya

dengarkan bagaimana dia berbicara
bagaimana sopan santun palsu mengiringi bau mulutnya
tidak...tidak...tidak!!!
tiada satu kata pun tentang kebenaran yang dia bicarakan, palsu!!!

sayangnya tak dimengerti dengan baik

Mari kita mulai beranjak
melangkah dan mendekat

memulai bertingkah
mari kita perlihatkan arti tingkah laku mengasihi...!!!

memang kita makhluk sosial
"bersama kita bisa!!!" demikian jargon yang sedang populer
memang manusia tak bisa hidup sendiri
demikianlah kita mulai menjalin relasi dengan yang lain

Kisah persahabatan: berteman, bersama, bertengkar

inilah kisah kasih dalam berelasi
ada yang menyebutnya seorang teman
atau lebih parah lagi, menyebutnya sahabat

kisah kasih dalam menjaga, dalam perhatian
kasih dalam memberi pun terjadi dalam alur kisah ini
terjadi begitu saja, mungkin karena inisiatif dari yang memulai

dan kesemuanya itu adalah sebuah kisah hidup

terlalu singkat untuk menilai
karya besar SANG PENCIPTA yang benamakan "kisah hidupmu"

jangan tengok ke kiri
kalau hanya untuk meng-iri
jangan tengok kanan
banggakan diri cuma karena makanan

kenapa teman hadir?

saat ini, kurasa tepat untuk meratap,
tapi engkau justru datang merapat.

pernah suatu kali aku terperangkap,
waktu itu justu aku kau tangkap.

ASUMSI

asumsi
sebatas pemikiran awal
tercipta karena suatu kejadian
yang tak biasa, tapi terlihat
yang janggal, tidak seperti biasanya
yang melebihi biasanya, mungkin terkejut karna perubahan
asumsi sebatas pemikiran awal

apa jadinya ketika asumsi meraja?
apa jadinya ketika asumsi menjadi bahan penilaian?
apa jadinya ketika asumsi yang memutuskan?

Dia itu temanku

seribu bahasa telah terucap
saling menjatuhkan, meninggikan satu sama lain mulanya
seribu bahasa yang terkemudian
saling berbagi, menertawakan kisah satu sama lain

seribu detik telah berlalu
waktu memang tiada menunggu, tapi teman selalu menunggu
seribu detik kembali berdetik
mengganti hari, kehangatan dalam cerita tercipta

seribu kisah memang telah berlalu
merangkai memori, itulah bahan pembicaraan kini
seribu kisah akan dilalui
mencetak memori baru untuk masa depan

seribu tawa dikurangi 999 kesedihan
tersisa satu tawa, yaitu ketika kita menertawakan apa yang ditangisi
seribu kebanggaan dikurangi 999 kekecewaan
tersisa satu kebahagiaan, yaitu ketika kita berbangga melewati semua kekecewaan

satu kata dalam persahabatan
seribu makna dalam menjalaninya
satu tetes air mengalir keluar dari mata
seribu kedipan dari teman yang kembali membuat tertawa

aku... kamu...
siapa kamu...?
kenali aku
mungkinkah itu satu?

kamu... aku...
ini aku
bolehkah ku lebih mengenalmu?
mungkinkah itu satu?

satu... teman ... aku... kamu...




Bookmark and Share
Search Engine Optimization